PORTALBERITALAMPUNG.COM, LAMPUNG TIMUR (SMSI) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, telah dinyatakan padam. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran, mengingat bara api masih berpotensi tersimpan di dalam lapisan gambut.
Karakteristik kebakaran lahan gambut memungkinkan api tetap membara di bawah permukaan tanah meskipun tidak lagi terlihat kobaran maupun asap dari atas. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh masih diperlukan untuk memastikan seluruh titik kebakaran benar-benar aman.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus Dosen Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Salemba, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa kebakaran gambut memiliki mekanisme pembakaran yang berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi pada umumnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dikenal sebagai smouldering combustion, yakni proses pembakaran yang berlangsung tanpa nyala api dan dapat bertahan cukup lama di bawah permukaan tanah.
“Kebakaran gambut memiliki karakteristik smouldering combustion, yaitu pembakaran membara tanpa nyala api yang dapat berlangsung lama di bawah permukaan,” ujar Daryono kepada Kompas.com, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa turunnya hujan di wilayah terdampak tidak serta-merta menjamin seluruh sumber api telah hilang. Air hujan memang membantu menekan kebakaran di permukaan, tetapi belum tentu menjangkau bara yang berada jauh di dalam lapisan gambut.
“Jadi, hujan turun bukan berarti api sudah padam,” katanya.
Daryono menegaskan, apabila masih ditemukan bara maupun indikasi pembakaran di bawah tanah, petugas harus tetap melakukan pemadaman.
“Ya, pemadaman harus tetap dilakukan apabila masih ditemukan bara atau indikasi kebakaran bawah permukaan,” tegasnya.
Menurutnya, penghentian pemadaman harus didasarkan pada hasil pemeriksaan lapangan, bukan hanya karena kobaran api sudah tidak terlihat.
“Pemadaman baru dapat dihentikan setelah dipastikan tidak ada lagi bara aktif, termasuk di bawah permukaan,” ujarnya.
Petugas Lanjutkan Penyisiran dan Pembasahan
Sementara itu, Kepala BPBD Lampung, Aswarodi, sebelumnya menyampaikan bahwa titik-titik kebakaran yang dipantau di kawasan TNWK sudah tidak memperlihatkan asap maupun titik api pada Rabu (28/10/2026) hingga siang hari.
Pemantauan dilakukan oleh Satgas Darat dengan dukungan pesawat tanpa awak atau drone. Kondisi di lapangan juga terbantu oleh hujan yang mengguyur kawasan operasi sejak dini hari.
Berdasarkan laporan pemantauan, hujan turun pada pukul 01.20 hingga 02.45 WIB di BOD 1, BOD 2, dan BOD 3. Selanjutnya, hujan kembali terjadi sekitar pukul 03.20 WIB hingga pagi dengan intensitas gerimis.
Humas Balai TNWK, Riri Fitriandi, juga membenarkan bahwa kebakaran di kawasan tersebut telah padam. Kendati demikian, petugas belum menghentikan seluruh aktivitas penanganan karena masih harus memastikan tidak ada sumber api yang tertinggal.
Pemeriksaan dilakukan melalui penyisiran area bekas kebakaran dan pembasahan lanjutan atau mopping up. Selain itu, pemantauan menggunakan drone tetap dilaksanakan secara berkala untuk membantu menemukan kemungkinan titik panas yang belum terdeteksi.
Tim TNWK juga dijadwalkan melanjutkan patroli deteksi dini selama beberapa hari setelah kebakaran dinyatakan padam.
Hingga Jumat (30/10/2026), belum terdapat data valid mengenai total luas lahan yang terdampak kebakaran dalam rangkaian karhutla tersebut.
Dengan tidak terlihatnya api di permukaan, bukan berarti seluruh potensi kebakaran telah berakhir. Pemeriksaan lapisan gambut dan pemantauan berkelanjutan tetap menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya kembali titik api di kawasan Taman Nasional Way Kambas. (*)












