Delapan Aki Stasiun Pemantauan GAK Hilang, PVMBG Pulihkan Peralatan LV93

PORTALBERITALAMPUNG.COM, BANDAR LAMPUNG (SMSI) – Sistem pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) sempat mengalami gangguan setelah delapan aki di Stasiun Lava 93 (LV93) diketahui hilang. Kondisi tersebut terungkap saat tim Badan Geologi melakukan pemeriksaan peralatan di kawasan GAK pada 27 September 2026.

Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan dua boks penyimpanan aki telah dibongkar. Satu boks sebelumnya menampung enam aki, sementara satu boks lainnya berisi dua aki.

Selain kehilangan delapan aki, petugas juga mendapati sejumlah panel surya di kawasan tersebut mengalami kerusakan. Kondisi itu turut memengaruhi ketersediaan sumber daya bagi perangkat pemantauan di lapangan.

Pengamat Gunung Api Badan Geologi, Deny Mardiono, sebelumnya menyampaikan bahwa tim menemukan jejak kaki di sekitar lokasi saat melakukan pemeriksaan.

Kepala PVMBG Badan Geologi KESDM, Rita Susilawati, mengatakan gangguan pada Stasiun LV93 sebenarnya telah teridentifikasi lebih awal. Stasiun tersebut diketahui tidak beroperasi sejak 16 September 2026 pukul 19.36 WIB.

Menurut Rita, PVMBG tetap memiliki sistem pemantauan lain yang dapat digunakan untuk memperoleh data aktivitas Gunung Anak Krakatau. Salah satunya adalah Stasiun Tanjung yang masih berada di Pulau Anak Krakatau dan hingga kini tetap beroperasi.

“PVMBG memiliki backup stasiun pemantauan yang masih mampu merekam kegempaan GAK saat ini, misal Stasiun Tanjung yang notabene masih berada di dalam Pulau GAK dan masih beroperasi hingga saat ini,” ujar Rita.

PVMBG kemudian melakukan penggantian aki dan sejumlah komponen yang diperlukan di Stasiun LV93. Setelah perbaikan dilakukan, peralatan seismik dan CCTV di stasiun tersebut kembali berfungsi.

“PVMBG sudah mengganti aki dan menghidupkan kembali peralatan seismik dan CCTV di stasiun LV93,” katanya.

Rita memastikan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau terus dilakukan. Performa seluruh stasiun pemantauan juga dipantau melalui sistem digital untuk mengetahui apabila terdapat gangguan pada perangkat di lapangan.

Dikhawatirkan Mengurangi Data Pemantauan

Pakar kebencanaan Dr. Daryono mengatakan kehilangan aki pada fasilitas pemantauan gunung api perlu mendapat perhatian karena komponen tersebut berkaitan dengan sistem catu daya sejumlah instrumen.

Daryono, yang merupakan Dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia (UI) sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menjelaskan bahwa perangkat pemantauan gunung api memiliki fungsi yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

Sensor seismik digunakan untuk merekam aktivitas kegempaan. Sementara kamera CCTV memberikan informasi visual mengenai kondisi gunung, sedangkan telemetri membantu mengirimkan data dari lokasi pemantauan menuju pos pemantauan.

“Hilangnya delapan aki pada perangkat pemantauan Gunung Anak Krakatau bukanlah persoalan kehilangan barang biasa. Aki tersebut merupakan bagian penting dari sistem catu daya yang menopang berbagai instrumen pemantauan,” kata Daryono kepada Kompas.com, Selasa (29/9/2026).

Menurut Daryono, keberadaan data hasil pemantauan menjadi penting untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api. Gangguan pada perangkat dapat berdampak pada kemampuan petugas memperoleh informasi dari lokasi secara optimal.

“Ketika instrumen tidak bekerja atau data tidak dapat dikirim secara optimal, kemampuan petugas untuk memantau perubahan aktivitas gunung api dapat ikut terganggu,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian terutama ketika terjadi perubahan aktivitas gunung api. Data yang diperoleh dari lapangan menjadi salah satu bahan bagi petugas dalam melakukan evaluasi dan memberikan informasi kepada masyarakat.

Peralatan Pemantauan Perlu Dijaga

Daryono mengingatkan bahwa perangkat pemantauan gunung api bukan hanya fasilitas teknis untuk kepentingan penelitian. Peralatan tersebut merupakan bagian dari infrastruktur mitigasi yang mendukung sistem keselamatan masyarakat.

“Masyarakat perlu memahami bahwa peralatan pemantauan gunung api dipasang bukan sekadar untuk kepentingan penelitian, tetapi untuk keselamatan kita bersama,” katanya.

Ia meminta masyarakat tidak mengambil, memindahkan, merusak, maupun mengutak-atik perangkat yang dipasang di kawasan pemantauan. Peralatan tersebut meliputi sensor, aki, panel surya, antena, kabel, serta perangkat telemetri.

Jika ditemukan aktivitas yang mencurigakan di sekitar fasilitas pemantauan, masyarakat diharapkan segera menyampaikannya kepada petugas atau aparat yang berwenang.

Daryono juga menilai apabila terdapat pihak yang terbukti melakukan pencurian, proses hukum perlu dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Penanganan tersebut dinilai penting untuk melindungi fasilitas pemantauan yang memiliki fungsi bagi kepentingan masyarakat luas.

Di sisi lain, PVMBG menyatakan koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan peralatan pemantauan Gunung Anak Krakatau.

“PVMBG berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk dapat bersama-sama menjaga keberlangsungan peralatan,” kata Rita.

Dengan kembalinya peralatan seismik dan CCTV Stasiun LV93 beroperasi, PVMBG tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas GAK melalui jaringan stasiun yang tersedia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *