PORTALBERITALAMPUNG.COM, LAMPUNG UTARA, KOTABUMI (SMSI) – Harapan hidup seorang remaja perempuan di Lampung Utara kini bertumpu pada ruang perawatan rumah sakit. Amel Sabila, 17 tahun, harus menjalani perawatan medis intensif setelah kondisi kesehatannya terus menurun dalam beberapa waktu terakhir.
Remaja asal Kelurahan Rejosari, Kecamatan Kotabumi itu saat ini dirawat di RSUD HM Ryacudu Kotabumi. Tubuh Amel tampak lemah, dengan keterbatasan gerak yang membuatnya sepenuhnya bergantung pada bantuan orang lain untuk menjalani aktivitas dasar.
Sejak kecil, Amel telah menunjukkan gangguan perkembangan. Ia mengalami keterlambatan fisik dan kesulitan mengontrol respons emosional. Keluarga menyebut, kondisi tersebut semakin berat seiring bertambahnya usia, terutama setelah Amel beberapa kali mengalami gangguan saraf.
Sang ibu, Danila Wati, mengatakan bahwa putrinya kerap mengalami fase tidak stabil yang membuatnya sulit berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dalam kondisi tertentu, Amel membutuhkan pengawasan penuh agar tidak membahayakan dirinya sendiri.
“Kalau kondisinya turun, dia tidak bisa mengendalikan diri. Kami hanya bisa menjaga dan menenangkannya,” tutur Danila lirih.
Amel merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya, Ibrahim Hasan, bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini kerap kesulitan memenuhi kebutuhan pengobatan, terlebih ketika kondisi Amel memerlukan penanganan medis berkelanjutan.
Perhatian terhadap kondisi Amel mulai meningkat setelah aparat kelurahan bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas Kotabumi Satu menerima laporan bahwa Amel mengalami penurunan nafsu makan dalam waktu cukup lama. Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Amel harus segera mendapatkan perawatan lanjutan di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Petugas kesehatan kemudian mendampingi keluarga untuk proses rujukan ke rumah sakit. Dari hasil pemantauan medis, Amel membutuhkan pengawasan intensif agar kondisinya tidak semakin memburuk.
Meski telah dirawat, beban psikologis dan ekonomi masih menghantui keluarga. Orang tua Amel mengaku cemas menghadapi biaya pengobatan lanjutan yang berada di luar kemampuan mereka.
Di tengah keterbatasan tersebut, keluarga hanya bisa berharap adanya perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak. Bagi mereka, dukungan sekecil apa pun menjadi sangat berarti demi kelangsungan perawatan Amel.
Kisah Amel menjadi potret nyata perjuangan keluarga prasejahtera menghadapi persoalan kesehatan anak di usia remaja. Sebuah cerita tentang ketegaran, keterbatasan, dan harapan agar kehidupan yang lebih layak masih bisa diperjuangkan. (*)












